Friday, April 18, 2014
   
Text Size

Kuliner dan Fashion, Bisnis Wanita yang Menjanjikan

Peluang Usaha

Wanita wirausaha perlu berjejaring dan saling memberikan inspirasi serta dukungan kepada sesamanya. Inilah yang mendorong majalah Femina, yang bekerjasama dengan BNI selama tiga tahun terakhir, untuk melanjutkan rangkaian program "Wanita Wirausaha" yang menjangkau 12 kota pada 2010 lalu. Salah satu programnya adalah lomba "Wanita Wirausaha" yang akan menyeleksi sembilan kategori juara dari ribuan perempuan berpotensi yang membangun bisnis skala menengah. Rangkaian seminar dan workshop "Wanita Wirausaha Femina" ini mengumpulkan fakta bahwa dari 7.000 wanita wirausaha yang terjaring secara nasional, 35 persen wirausahawan perempuan memilih bisnis fashion.

Selain fashion, wanita wirausaha cenderung memilih bidang usaha kuliner (19 persen), kerajinan (sembilan persen), pendidikan (delapan persen), dan kecantikan (tujuh persen). Sementara dari pilihan jenis usaha, 48 persen dari ribuan perempuan berwirausaha ini bergerak di bidang perdagangan, jasa (46 persen), produsen (27 persen), dan pemasok (12 persen).

"Dari segmen usia, kebanyakan perempuan yang berwirausaha juga terbilang masih muda, sekitar 20-an tahun. Latar belakang pendidikan mereka juga tinggi, S-1 dan S-2. Perempuan yang berbisnis ini juga bukan dari skala usaha menengah atas yang bisnisnya di atas satu miliar. Kebanyakan wanita wirausaha ini berasal dari segmen menengah," jelas Petty S Fatimah, Pemimpin Redaksi Femina saat temu media beberapa waktu lalu.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap entrepreneur perempuan, puncak acara Wanita Wirausaha BNI-Femina 2010/2011 pada Jumat (25/3/2011) nanti akan mengumumkan pemenang lomba wirausaha.

Petty melanjutkan, sejumlah masalah ditemukan dari pengalaman bertemu dengan sejumlah perempuan pebisnis dari berbagai kota ini. Sejumlah masalah atau kendala wanita wirausaha di antaranya kurangnya pengetahuan tentang wirausaha, minimnya jejaring usaha di antara para pengusaha perempuan ini, selain juga kurangnya dukungan kewirausahaan di lingkungan termasuk keluarga. Masalah yang juga seringkali ditemui wirausahawan adalah akses terhadap pembiayaan.

"Masalah pembiayaan bukan dipengaruhi faktor bahwa usahanya masih kecil dan belum bisa memanfaatkan fasilitas bantuan modal dari perbankan. Masalahnya lebih kepada banyak perempuan yang belum mengerti bagaimana cara mengakses pembiayaan, mereka belum paham bagaimana cara berhubungan dengan bank," jelas Petty.

Meski ditempa sejumlah masalah dalam berwirausaha, semangat perempuan untuk berbisnis tak surut. Wanita wirausaha juga terus berkembang, baik jumlah pebisnis pemula yang terus bertambah maupun perempuan yang kini melebarkan sayapnya hingga pasar dunia.

"Dari 7.000 wanita wirausaha yang terjaring melalui program ini, tujuh persennya sudah ekspor. Kebanyakan pebisnis perempuan yang melakukan ekspor menjalani bisnis di Bali dan Yogyakarta," tandas Petty.

Data Pengunjung

Today61
Yesterday536
Week3015
Month10362
All408199

Currently are 25 guests online

Artikel Bisnis